Banyak pakar yang sudah dan sedang berbicara masalah ini dan semuanya memiliki pendapat masing-masing bahkan ada yang saling bertentangan. Aku bukan pakar, jadi monggo bagi yang tidak ingin membuang waktu 10-15 menitnya yang berharga segera cabut dari tulisan ini
Sebagai seorang perempuan yang juga adalah seorang ibu, aku ingin konsisten melawan segala aksi kekerasan dan pengrusakan atas nama apa pun, jadi untukku, demo anti rencana kenaikan BBM sebesar Rp 1500 menjadi sebesar Rp 6000 untuk jenis premium per 1 April nanti beberapa hari ini sudah berlebihan.
Dimulai sejak hari Senin lalu, mereka yang mengaku buruh dan mahasiswa terus menerus berdemo hingga siang ini. Terakhir memonitor media online, para demonstran sudah berkumpul di Bundaran HI dengan jumlah ribuan.
Selama ini aku menganggap demonstrasi adalah suatu cara untuk menyampaikan aspirasi yang bertujuan agar didengarkan oleh pihak yang berkepentingan. Nah, untuk didengarkan itu terdapat berbagai cara menarik perhatian pihak yang dituju dari aksi teatrikal, puasa atau mogok makan dan minum selama periode tertentu, berjemur di alun-alun kota, bertelanjang badan, melukis di media yang disediakan, memberi bunga, melepas balon, cap jempol dengan tinta darah sendiri dll. Pernah membaca, ada sekitar 200 cara tapi aku tidak memperhatikan apa saja detailnya namun sayangnya aksi anarkis termasuk salah satunya.
Meskipun bukan termasuk aksi demo yang yang dianjurkan namun sepertinya aksi ini menjadi favorit bagi demonstran yang tidak mau berpikir panjang ke depan terutama untuk masalah warisan sikap kepada generasi penerus nanti. Kelompok demonstran yang memilih cara ini biasanya mengandalkan jumlah pengikutnya yang banyak sehingga merasa kuat dan berani menghadapi aparat kemanan sekali pun.
Beberapa hari ini aku mendengar tidak saja melempar batu ke aparat, para demonstran juga merusak showroom mobil, menjarah restoran cepat saji, menutup bandara hingga penerbangan dialihkan, memblokade jalanan, memaksa turun para sopir truk angkutan yang bertugas untuk ikut berdemo, membakar mobil polisi bahkan kantornya juga. Lemparan batu tidak saja melukai orang namun juga merusak berbagai fasilitas umum seperti jalanan, rambu lalu lintas, kendaraan yang lewat, properti kampus bahkan rumah warga biasa.
Pembenaran mereka adalah para pemimpin dan wakil rakyat merusak negara lebih besar lagi!
Sungguh suatu pemikiran yang sangat dangkal dan menyedihkan apabila pembenaran itu berasal dari analisa mumpuni kalangan mahasiswa. Betapa sedih membayangkan mereka membenarkan tindakan anarkis dengan memperbandingkan akibat kerusakan yang dibuat mereka lebih kecil dari yang dibuat oleh para pemimpin dan wakil rakyat terhadap negara.
Anarkis adalah anarkis!
Beda mereka dengan para pemimpin dan wakil rakyat yang didemo hanya pada posisi saja dong? Cepat atau lambat mereka akan bertransformasi dari calon koruptor menjadi koruptor juga karena mereka menggunakan cara yang sama : merusak fasilitas umum bahkan hak milik pribadi rakyat demi kepentingan atau tujuan golongan mereka sendiri!
Golongan mereka sendiri? Ya, tentu saja golongan mereka sendiri karena aku sebagai rakyat yang sering diatasnamakan pada setiap demo tidak merasa mewakili aspirasiku terhadap siapa pun yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan dan aku yakin, aku bukan satu-satunya rakyat yang merasa demikian. Jadi jelas para demonstran yang mengusung aksi anarkis ini mewakili golongan mereka sendiri.
Jika masih mahasiswa saja sudah menghalalkan segala cara dan tidak peduli dengan rakyat, bagaimana jika menjadi pemimpin nanti?
Mungkin mereka akan mengatakan jika aksi demo ini berhasil sehingga rencana kenaikan tersebut dibatalkan maka aku seharusnya tidak usah ikut merasakan keberhasilan dengan menikmati hasil “usaha” mereka itu. Dengan senang hati aku akan mengakui bahwa aku memang tidak menganggap mereka berhasil karena niat baik apa pun jika didapatkan dengan cara yang tidak baik pasti tidak berkah dan tidak akan membawa perubahan apa pun selain peningkatan skala kekerasan untuk demo berikutnya.
Mari renungkan berapa persen kenaikan harga barang akan terjadi karena kenaikan BBM ini? Apakah sebanding dengan resiko kehilangan nyawa dalam demo dengan aksi anarkis? Bukankah tanpa kenaikan BBM pun, harga barang akan tetap naik karena berbagai alasan lain? Jika alasan subsidi untuk BBM yang direncanakan untuk mensubsidi kaum tidak mampu dirasa tidak tepat sasaran atau tidak sampai, ya yang harus diperbaiki adalah alur penyerahan subsidi tersebut dengan aktif mengawasi dan melaporkannya bukan malah menihilkan manfaat dari pengurangan subsidi BBM kepada para pemilik kendaraan bermotor yang dialihkan ke kaum tidak mampu.
Ayo mahasiswa, kami butuh negosiator handal bukan demonstran “bonek”!
Siapa lagi yang bisa kami harapkan untuk mengulang negoisasi sejumlah kerjasama yang tidak adil dengan para pemilik modal asing? Siapa lagi yang bisa kami andalkan untuk menjadi ahli presentasi, ahli persuasi, ahli strategi jika untuk demo yang sebenarnya sama dengan presentasi ini saja dilakukan dengan adu otot bukan adu otak? Siapa yang kami ikuti untuk kebaikan jika bukan kalian sebagai ahli komunikasi yang berilmu dan berakhlak? Siapa yang akan menggantikan para pemimpin dan wakil rakyat brengsek jika ternyata kalian sebagai penggantinya nanti punya catatan brengsek juga pada saat menyampaikan pendapat? Siapa yang kami jadikan tempat mengadukan ketidakadilan, jika kalian sudah tidak adil semenjak berpikir? Siapa yang menjadi tumpuan kami untuk berunding di kantor pemerintah, gedung rakyat dan pengadilan nanti jika kalian ikut-ikutan turun ke jalan padahal kalian adalah bagian dari trias politika?
Hanya berdo’a dengan sungguh-sungguh yang bisa kulakukan saat ini semoga kita semua diberi hidayah dan demo hari ini berjalan lancar tanpa aksi anarkis juga tidak ada korban seperti hari-hari kemarin….
“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.“~ Pramoedya Ananta Toer (Jean Marais, Bumi Manusia hal 52)
Catatan kecil : Anarkis sebenarnya adalah kata benda yang merujuk pada pelaku kerusuhan yang berperilaku dengan kecenderungan merusak seolah tidak ada penguasa atau hukum yang berlaku namun karena menjadi istilah yang umum digunakan, aku mengikutinya agar tidak canggung ketika berbagi dan pesanku sampai. Kata sifatnya adalah anarkistik, jadi aksi anarkis seharusnya ditulis aksi anarkistik.