Pengurusan Dokumen untuk Pernikahan

Sebenarnya untuk pesta pernikahan dimana calon pengantin akan dibantu keluarga besar dari persiapan hingga pelaksanaan, pengurusan dokumen tidak perlu dilakukan kedua mempelai sendiri. Semuanya ada yang mengurus, paling-paling hanya akan diminta tanda tangan jika diperlukan.

Berbeda dengan kami yang mengurus sendiri karena tidak ingin merepotkan keluarga besar, maka aku harus menikmati bagian yang paling melelahkan dari semua tahapan untuk persiapan pernikahan kami ini. Kebetulan pasanganku termasuk bagian dari kalangan militer sehingga ada beberapa persyaratan khusus yang harus aku penuhi seperti surat persetujuan dari ayah calon istri, surat  keterangan catatan kepolisian untuk ayah calon istri,  surat catatan kepolisian untuk ibu calon istri, surat keterangan catatan kepolisian untuk calon istri, surat tanda kesanggupan calon istri, surat keterangan dokter dari dokter yang ditunjuk, wawancara untuk litsus (screening), wawancara di bagian pembinaan dan terakhir adalah surat izin menikah dari atasan calon suami. Mantap jaya, bukan? :D

Surat keterangan catatan kepolisian untuk orangtua dan calon istri diatas tentu saja harus melampirkan surat keterangan dari RT/RW dan juga kelurahan.

Setelah surat izin keluar, aku baru bisa meminta surat pengantar dari RT/RW untuk mengurus surat N1, N2 & N4 dari kelurahan, surat pengantar untuk menikah ke KUA, Surat N7 dari KUA, surat persetujuan kedua mempelai dari KUA, surat pembinaan perkawinan (BP4) dari KUA dan terakhir janji dengan penghulu.

Pengurusan itu harus disertai salinan dari akta kelahiran, salinan dari ijazah terakhir, 10 lembar pas foto 4x6cm, 6 lembar pas foto 3x4cm, 6 lembar pas foto 2x3cm dan 6 lembar materai. Aku awalnya tertawa mendengar Drew menjelaskan prosedur ini namun begitu melihat mukanya serius, aku langsung “mingkem”. :shock:

Di atas adalah persyaratan untuk aku sebagai calon istri sementara untuk dia sendiri juga tidak kalah banyaknya. Mirip seperti melamar pekerjaan ya? :)

Meskipun melelahkan dan sedikit membosankan karena seringkali menunggu dan mengantri dalam proses pengurusan dokumen namun aku mencoba untuk memaknai “perjuangan” itu dengan berpikir positif bahwa kami memang sengaja diberi jalan yang tidak mudah untuk semua itu agar ketika sudah sudah resmi nanti tidak akan menyia-nyiakan apa yang sudah kami perjuangkan dengan seenaknya.

Jika diingat-ingat, ketika aku dan ibuku harus mengurus ke polres satu hari setelah hampir seharian menunggu di polsek sebelumnya dan ditolak dengan alasan bahwa persayaratan menikah bukan wewenang polsek, aku merasa biasa saja sekarang. Berbeda sekali pada saat mengalaminya dulu yang sungguh melelahkan dan penuh kekhawatiran karena kondisi kesehatan ibuku waktu itu sedang kurang baik. Kebetulan beliau pengidap diabetes dan saat itu kadar gulanya cukup tinggi sehingga tidak boleh beraktifitas terlalu lelah.

Demikian juga ketika akan menghadap atasan Drew di kantornya, waktu terasa berjalan begitu lambat ketika menunggu dipanggil masuk dan AC di ruangan ajudan tempat kami menunggu dingin sekali seperti sedang berada di dalam lemari pendingin sehingga sempat membuat perutku bergolak kacau. Untung lah ketika akhirnya menghadap beliau perasaan tidak nyaman itu berangsur-angsur hilang karena pertemuan itu banyak diisi dengan masukan yang berharga sebagai bekal kami berumah tangga nanti.

Untuk pengurusan dokumen di KUA, jika merasa bingung mau memberi berapa kepada penghulu, sebaiknya tanya-tanya kepada teman-teman yang baru menikah dan gunakan ukuran kepantasan saja karena sebenarnya itu memang bukan biaya resmi. Aku sengaja membayar uang muka setengah dari yang kami niat berikan karena ingin melihat reaksi penghulunya. Jika dihubungi di kemudian hari seperti enggan menanggapi, aku akan menjanjikan sisanya dilebihkan karena harus diingat di sini, do’a dan nasihat pernikahan itu sangat diperlukan pada acara sakral ini. Jangan sampai hanya karena berapa ratus ribu rupiah, kita mendapat do’a yang kurang tulus. Alhamdulillah, pada kasusku penghulunya baik-baik saja ketika dihubungi untuk mengkonfirmasi kesanggupannya pada hari H, jadi kami merasa tidak perlu menambah dari jumlah yang sudah kami niatkan.

Kami juga merasa berterimakasih kepada sekretaris RT yang sangat banyak membantu. Senang sekali ketika kami bisa membalas kebaikannya dengan memberi pekerjaan berupa penyediaan nasi boks untuk makan siang yang akan diberikan kepada pegawai di KUA yang berjumlah 25 orang.

Total untuk pengurusan dokumen hingga izin keluar adalah 37 hari dan hanya 1 hari pengurusan di KUA untuk mendapatkan kesediaan penghulu yang akan menikahkan kami berdua.

Pada saat proses pengurusan dokumen untuk kantor Drew dan izin belum keluar dari atasannya, tanpa berniat mendahului keputusan Tuhan, aku tetap rajin mencari informasi di internet untuk kebutuhan persiapan lainnya seperti cincin kawin, catering, tempat pelaksanaan, baju & rias pengantin, fotografer dll. Pertimbanganku adalah apabila informasi itu terpakai alhamdulillah namun apabila tidak, ya mungkin berguna di lain waktu.

Baik lah, aku akan lanjutkan di lain kesempatan. Terpenting untuk calon mempelai adalah harus kompak dengan pasangannya dan saling menyemangati dalam persiapan untuk pernikahan ini. Ingat kutipan ini saja kalau merasa baterainya mulai meredup : “No pain, no gain!” :)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s